REVIEW NOVEL "SIMFONI CAHAYA"

 



Judul                                             : Simfoni Cahaya
Penulis                                          : Nelfi Syafrina
Genre                                            : Insipratif
Penerbit                                        : Bunyan (PT. Bintang Pustaka)
Tahun Terbit                                  : 2016
Jumlah Halaman & Tebal Buku    : 274 halaman, 20.5 cm


Sinopsis :

Erina Kamila adalah seorang bidan desa yang ditugaskan di sebuah dusun terpencil di Kabupaten Solok. Erina memulai tugasnya dengan mendata kesehatan warga bersama Leni, salah satu kader posyandu. Sesekali Erina ditemani oleh Devi, gadis kecil berusia 8 tahun yang sudah yatim piatu. Devi tinggal bersama neneknya yang sakit-sakitan.
            Awal tugas Erina ternyata tidak begitu lancar. Masyarakat desa masih tidak begitu percaya dengan dokter atau pun bidan, dan lebih percaya dengan dukun. Bahkan Hendri, seorang pria berbadan besar yang ternyata anak dari seorang dukun yang sering dipanggil Angku Itam, beberapa kali memperlihatkan rasa taksuka pada Erina.
Hendri memperingatkan Erina bahwa Erina akan celaka kalau tetap berada di dusun itu. Walau begitu, Erina tak gentar. Dia meneruskan tugasnya walau dia sudah diminta pergi dari dusun itu oleh Hendri. 
Suatu ketika, Erina difitnah melakukan malapraktik oleh Angku Itam. Erina dituduh memberikan obat kadaluarsa hingga pasien tersebut meninggal dunia. Angku Itam melaporkannya ke Polsek Alahan Panjang.  Erina ditangkap dan diperiksa. Di kantor polisi, Erina diperiksa oleh seorang polisi bernama Rizky. 
Lalu bagaimana kelanjutan perjuangan Erina ? Bisa kah Erina membuktikan kebenaran ? 

Baca cerita ini selengkapnya di Novel "Simfoni Cahaya" yang sudah banyak beredar di toko buku baik online maupun offline.

REVIEW :

Setelah selesai membaca novel ini, satu kata yang menggambarkan novel ini yaitu #SalutErina. Aku terkagum-kagum dengan sosok tokoh utama dalam novel ini. Erina yang terlahir dari keluarga berkecukupan memilih untuk mengabdikan dirinya bekerja di daerah pelosok. Tidak hanya itu, banyak kejadian-kejadian yang menimpa Erina namun tidak membuat wanita ini gentar dan tetap bertahan menjadi bidan di desa. Sosok Erina merupakan Penulis menggunakan tokoh Erina sebagai tokoh aku. 

Selain itu, kelebihan novel ini adalah terselip nilai agama mengingat novel ini bukanlah jenis novel religi. Nilai agama terselip dengan adegan sholat berjamaah di masjid, sholat sebelum pergi untuk mendata warga, dan Erina yang tidak pernah memperlihatkan mahkotanya kepada yang bukan muhrim. Selain itu, bahasa yang digunakan mudah dipahami dan penokohan nya membuat pembaca greget jadinyaaa!!

Menurut ku, Kekurangan buku ini yaitu konflik nya yang kurang klimaks.

Bagian yang aku suka dalam cerita novel ini, Erina yang tidak ingin memberikan harapan kepada laki-laki karena tidak mau membuat laki-laki baper ama dia. 


Kalimat favorit ku yaitu :

"Yang kakak takuti hanyalah Allah . Jadi, semua bergantung kepada Allah. Jika Allah menginginkan kakak pergi dari sini, kakak akan pergi. Tapi, jika Allah menginginkan Kakak di sini, Kakak akan terus berjuang sampai batas kemampuan Kakak."

(Halaman 53)


Dalam cerita ini, terselip banyak pesan moral bagi kalian yang membacanya.

Buku in cocok dibaca semua umur terutama untuk kalian yang sedang berjuang, mengabdi di daerah pelosok.


Saatnya pemberian nilai, dari 5 nilai yang aku punya, buku ini mendapat nilai 3,2!! 😃

Komentar