Terlambat
| D |
ering jam beker bergambar doraemon berbunyi. Seseorang di tempat tidur, berselimutkan gambar Winni The Pooh masih asyik dengan mimpinya yang indah. Tak berkutik dengan suara jam beker yang berbunyi sangat keras. Jam beker yang sedari tadi bunyi, sudah tidak terdengar lagi. Senyap. Sinar matahari yang masuk melalui lubang-lubang jendela, membuat silau sosok di balik selimut. Pintu kamarnya di ketuk sangat keras. Karena suara pintu kamar yang begitu keras dan sinar matahari yang menyinari tubuhnya, sosok di balik selimut terbangun.
Tak sengaja, ia melihat jam di dinding kamarnya. Dan terkejut saat begitu tahu, angka di jam itu menunjukan jam setengah tujuh lebih!!!! Dengan gerak yang terburu-buru. Rani melompat dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Setelah mandi, Rani langsung mengenakan baju seragam, menyemprotkan minyak wangi, bedakan sekenanya, dan menguncir rambutnya dua kepang.
Ia mengibaskan roknya yang terkena bedak powder. Sudah rapi. Tinggal berangkat aja. Ia pun mengambil tas dan menuju ke lantai bawah. Dengan tergesa, Rani menuruni tangga. Ketika ia sudah berada di bawah, ia seperti berada di sebuah rumah yang tak berpenghuni. Kemana orang-orang di rumahnya? Pikirnya saat melihat rumahnya kosong. Mungkin Rani sudah terbiasa melihat keadaan rumahnya kosong tak berpenghuni. Sebab orang tuanya sibuk luar biasa dan jarang berada di rumah, terutama ayahnya.
Di rumah itu ia sering hanya tinggal bersama Bi Sum “Dayangnya” yang selalu ada untuknya dan Pak Tano supir pribadi yang selalu setia menemani bila ia ingin pergi ke mana pun. Ia sangat menyayangi kedua orang itu. Karena mereka lah yang melimpahkan kasih sayang kepadanya, bukan kedua orang tuanya.
Selama ini ia rindu akan belaian tangan kedua orang tuanya. Kasih sayang yang di berikan orang tuanya. Sejak kecil ia tidak pernah mendapatkan itu semua, yang ia dapat hanya kasih sayang dari Bi Sum dan Pak Tano.
Rani tersadar akan lamunnya. Ia pun bergegas menuju garasi mencari Pak Tano, supir pribadinya.
“Pak, tolong anterin aku ke sekolah. Cepetan, ga pake lama!!!! Aku udah telat banget niiiihhhh....” buru Rani.
“Iya non, tapi bapak mandi dulu ya? Bapak habis mandiin mobil, bajunya basah.”
“Iiiiihhhh Pak Tano nih gimana siiiihhh kan aku dah telat bangeeetttt niiihh!!!!” sebenarnya sih Rani tidak tega sama Pak Tano. Sebab hanya Bi Sum dan Pak Tano lah yang ia sayangi.
“Emang non mau apa, satu mobil sama bapak yang bau belum mandi....”
“Iiiiihhh ga mauuuuu!!!” katanya. Ia pun berpikir-pikir membayangkan dirinya di supiri oleh Pak Tano yang basah kuyup sehabis mencuci mobil Honda Jazz miliknya dan mencium aroma yang tak sedap dari tubuh Pak Tano yang belum mandi, ”Ya udah,mandi dulu sana... tapi jangan lama-lama loohh, udah telat banget niiihhh!” Ujar Rani setelah berpikir cukup lama.
Setelah di izin kan untuk mandi, Pak Tano pun bergegas meuju kamar mandi. Tak berapa lama Rani menunggu, Pak Tano pun telah siap. Dengan baju yang tidak lagi basah, dan aroma yang kini sudah wangi. Rani pun segera masuk ke dalam mobil Honda Jazz miliknya yang di supiri Pak Tano. Mobil pun meluncur menyusuri jalan raya Jakarta yang terkenal macet.
Tak Lama, mobil pun telah sampai di halaman sekolah Rani
“Makasih Pak.” ucap Rani. Sesampainya di sekolah.
Di halaman sekolah telah sepi sebab bel masuk sekolah telah berbunyi. Rani pun berlari ke arah kelasnya. Setibanya di depan kelas VIII-7 pelajaran fisika telah di mulai. Pelajaran pertama di kelas VIII-7 adalah pelajaran fisika. Guru yang mengajar fisika adalah bu Triska. Guru itu terkenal sangat galak dan tegas, sangat, sangat galak! Pernah waktu itu, Rani dan Meri di hukum akibat tidak mengerjakan PR. Mereka pun di suruh berdiri di depan kelas sembari memegang telinga dan mengangkat 1 kaki mereka dan hukuman itu berlaku sampai jam pelajaran itu selesai, padahal Jam pelajaran fisika berlangsung selama 2 jam. Bisa bayangin dong, mereka mesti berdiri di depan kelas selama 2 jam lebih. Duh, duh, duh, gimana ga pegel coba! Selama di hukum, Rani hampir pingsan. Bu Triska mah tetap saja cuek, yang jelas hukuman tetap harus berlangsung. Sehabis di hukum, Rani bagaikan tak punya kekuatan. Kakinya tak kuat untuk melangkah menuju kantin. Alhasil teman-temannya yang repot, mengurus semua keperluan Rani yang berhubungan dengan perut. Duh, duh, duh, Rempong beneeeerrrrrr deh!!!!! Hehehe...
Hukuman waktu itu, sudah cukup baginya. Duh,gimana ya caranya agar aku bisa masuk ke dalam tanpa ketahuan sama bu Triska. Jangan sampai aku di hukum lagi. Rani pun berpikir keras,bagaimana ia bisa masuk kelas tanpa ketahuan guru fisika.
“Suutt, Suutt, Suutt...” bisik Rani,pelan.Dari arah jendela.
Eva pun menoleh, ia seperti mendengar suara seseorang. Maklum, ia duduk di dekat jendela makanya dia bisa dengar bisikandari arah jendela. Loh,itu Rani kok dia ada di jendela? Tanya Eva dalam hati.
“Oy, bantuin gue dong! Supaya gue bisa masuk kelas tanpa ketahuan sama bu Triska...” pinta Rani. Memelas.
“Oke, oke... lo tenang! Nanti gue suruh yang lain buat nolongin elu masuk ke kelas...”
“Iya, tapi cepet ya!”
Eva pun mengambil buku dari dalam tas dan merobek satu lembar kertas. Ia pun langsung meremas-remas kertas sobekan dan melempar ke arah Jenny. Jenny pun mengambil kertas sobekan itu dan menoleh ke arah Eva yang melemparkan kertas kepadanya.
“Kenapa siiii?”
“Itu si Rani telat, kita mesti nolongin dia. Gimana caranya supaya dia bisa masuk tanpa ketahuan...”
“Oh gitu... Ya udah, kita minta bantuan Niska aja, dia kan pasti punya ide...” saran Jenny.
Jenny pun meremas-remas dan melemparkan kertas yang tadi di lemparkan oleh Eva ke Niska. Niska menoleh. Jenny pun menjelaskan tentang maksud dia yang ingin menolong Rani untuk bisa masuk ke kelas tanpa ketahuan oleh bu Triska. Niska pun berpikir keras. Berpikir bagaimana cara agar kawannya itu bisa masuk kelas tanpa ketahuan. Aha, aku tahu! Ya pasti ini bisa ,pasti bisa.Niska pun tersenyum-senyum sendiri karena telah mendapat ide yang cemerlang. Ia pun membisikan ide cemerlangnya kepada Jenny. Jenny pun mengangguk-angguk tanda setuju sembari tersenyum. Jenny pun membisikan ide cemerlang Niska kepada Eva. Ya itu adalah ide yang bagus. Eva pun mengacungkan jempolnya kepada Niska, tanda ia setuju denga ide cemerlangnya.
Niska pun mulai mengatur strategi. Otaknya pun mulai berpikir. Oh ya,pakai cara itu aja! Niska pun ingin memulai ide cemerlangnya. Niska yang duduk paling pojok jauh berlawanan dari arah pintu masuk kelas pun berpikir bahwa posisi duduknya sangat menguntungkan untuk misi menyelamatkan sobatnya itu.
“Bu, bu, bu,ini gimana sih maksudnya??” tanya Niska sambil mengacungkan tangan.
Bu Triska yang sedang menuliskan rumus-rumus di papan tulis, seketika menghentikan kegiatannya yang sedang di lakukannya dan menoleh ke arah Niska yang bertanya. Bu Triska pun berjalan menghampiri meja Niska.
“Ada apa Niska? Ada yang tidak kamu mengerti?” tanya bu Triska saat sudah tepat berada di depan meja Niska.
“Iya. Ini bu, tentang rumus ini?” Niska menunjukan ke arah rumus yang ia maksud. Sebenarnya Niska tuh mengerti tentang rumus yang ia tanyakan kepada bu Triska, itu hanya alasannya saja agar perhatian bu Triska teralihkan dan fokus kepadanya.
Jenny pun menoleh dan tersenyum sembari mengacungkan jempol ke arah Eva. Akhirnya siasat dan ide cemerlang Niska berhasil juga. Perhatian guru fisika itu teralihkan dengan pertanyan yang di lontarkan Niska, jadi si Rani bisa masuk deh! Jenny dan Eva pun melirik ke arah jendela sembari mengedipkan mata mereka, tanda bahwa kini posisi aman jadi dia sudah boleh masuk.
Dengan berjalan pelan dan hati-hati, Rani melangkahkan kakinya menuju kelas. Di ambang pintu, ia waspada dan melirik ke arah bu Triska. Takut,takut, bu Triska melihat dirinya dan menghukumnya ,jadinya kan sia-sia teman-teman menolongnya. Saat sudah berada di bangkunya, bu Triska masih saja tetap tidak menyadari kehadirannya yang datang terlambat, benar-benar larut ke dalam pertanyan yang di ajukan Niska. Thanks Ka! Bisiknya pelan.
“Untung aja lu ga ketahuan...” gelutuk Eva.
Selama satu kelas di kelas VIII-7, Eva yang menjadi teman sebangku Rani. Selain teman sebangku, Eva juga satu genk sama Rani yaitu Genk Pinkies. Ya, genk Pinkies paling terkenal di sekolah karena anggotanya yang cantik-cantik, kaya, selalu membawa mobil pribadi, dan selalu di kecengin cowok. Genk Pinkies bukan hanya terkenal di sekolah mereka saja tetapi sekolah-sekolah lain pun cukup mengenal genk yang beranggotakan Rani. Bahkan bagi mereka yang bisa berteman dan ngobrol dengan anggota Pinkies, bisa di bilang sangat keren! Maklum, anggota Pinkies sangat lah memilah-milih dalam berrteman. Jadi sangat beruntung sekali bagi mereka yang bisa berteman. Pinkies hanya beranggotakan enam orang, yaitu : Rani, Eva, Jenny, Yunita, Mami, serta Niska. Semua anggota Pinkies sekelas sama Rani, yaitu sama-sama kelas VIII-7. Tentu saja semua orang di sekolah mereka mengenal seluruh anggota Pinkies, termasuk guru-guru sekolah mereka.
Di tambah genk Pinkies bersekolah di SMP 66 Jakarta utara. SMP 66 Jakarta adalah smp favorit. Banyak anak-anak ingin bersekolah di situ. SMP 66 juga terkenal dengan murid-muridnya yang kebanyakan anak orang kaya yang selalu berangkat dengan mobil pribadi dan anak-anak yang memiliki prestasi gemilang serta sekolahnya yang sangat bagus, elegan, dan peralatan semuanya lengkap. Keren deh, kalau bisa masuk ke sekolah itu!
“Iya,untung aja...”
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara bel istirahat berbunyi. Bu Triska yang masih menjelaskan rumus kepada Niska pun mengakhiri penjelasannya. Bu Triska pun menghampiri meja guru, membereskan peralatan miliknya dan memasukan barang-barang miliknya ke dalam tas kecilnya yang berwarna silver bercampur dengan coklat muda sehingga tas itu tampak sangat elegan.
“Sampai jumpa anak-anak... Jangan lupa tugasnya di kumpulkan minggu depan!”
“Baik buuuuuu!!” jawab mereka. Serempak.
Setelah berkata begitu, Bu Triska pun keluar dan berjalan menuju ruang guru. Suasana di kelas pun menjadi sepi karena hampir semua keluar dari kelas, Ada yang pergi ke kantin, ke perpustakaan, atau pergi ke lapangan basket sekedar melihat anggota basket yang terkenal keren dan gayanya yang keren abis untuk melihat permainan basket mereka. Kalau anggota Pinkies sii lebih memilih pergi ke kantin saat jam istirahat.
*****
“Mi, jadi ga kita pulang sekolah pergi ke basecamp?” tanya jenny sembari menyeruput es teh yang telah di pesannya.
Pagi itu saat jam istirahat pertama, para anggota Pinkies sedang berada di kantin sekolah mereka. Mereka duduk di bangku dekat pintu keluar kantin. Memang bila berkumpul di kantin sekolah, genk Pinkies selalu memilih bangku dekat pintu keluar kantin. Entah alasan mereka memilih tempat di situ.
“Mungkin jadi... kan ga ada alasan lagi kita untuk berkumpul di basecapm! Apalagi kita bisa di marahi oleh si Rani kalau sampai di batalkan.”
“Iya juga sii! Eh, ke mana si Eva sama Rani??? Tumben mereka jam segini belum kumpul???” ucap Jenny. Heran ketika belum melihat dua kawannya itu berkumpul bersama mereka.
“Iya biasanya, mereka yang duluan datang.” ujar Yunita, ikut nimbrung.
“Loh, itu bukannya Rani sama Eva???” tunjuk niska. Saat melihat rani dan eva lari menuju arah tempat duduk mereka.
Anggota Pinkies pun menengok mengikuti arah tunjukan Niska. Tampak kedua orang perempuan berlari menghampiri meja mereka.
“Sory ya all gue telat. Maklum aja tadi gue abis di kecengin sama si Rino yang anak basket itu.” jelas Rani dengan terengah-engah.
“Hah!!! Sumpeh looo? Di kecengin sama si Rino yang keren dan bodynya mantap itu...? Wiiihh, keren amat!” ujar Yunita. Iri.
Rino adalah anak basket yang gayanya cool banget. Potongan gaya rambutnya pun keren dan menjadi trend-an di sekolah. Hampir semua anak cewek di sekolah mereka suka sama Rino, termasuk para anggota Pinkies. Dan bila Rino tadi ngecengin Rani? Itu adalah gosip yang sangat panas di sekolah mereka. Apalagi Yunita sudah menyukai Rino sejak mereka kelas 1 SMP.
“Yoi ma brooooo! Keren kan? Rani gitu looohh!” kata Rani. Bangga.
“Eh, jadi ga sepulang sekolah kita mampir en ngumpul-ngumpul di basecamp???” tanya Mami. Memotong pembicaraan Yunita dan Rani yang sedang membahas Rino si anak basket.
“Tentu saja jadi dong! Tapi nanti gue minta supaya pak Tano untuk nganterin gue ke basecamp.”
“Oke! Kalau begitu...” ucap anak-anak. Kompak.
“Tadi keren tuh bu Triska di kerjain sama Niska... ahahahah... Kocak!” seru Mami.
“Hah!! Iya apa?” tanya Yunita,tak percaya.
Maklum Mami dan Yunita tidak ada di kelas saat Niska melakukan aksinya. Menyelamatkan sobatnya. Menyelamatkan Rani dari hukuman kejamnya bu Triska. Saat itu, Mami dan Yunita sedang melakukan remedeal untuk pelajaran bahasa Inggris di ruang guru, sehingga mereka tidak bisa melihat secara langsung kejadian di kerjainnya bu Triska.
“Iya, beneran!” jawab Jenny sembari melirik Eva dan Rani.
“Tapi lu kok tau si Niska ngerjain bu Triska?” tanya Eva. Heran.
“Iya lah, gue di kasih tau sama orangnya sendiri. Tuh sama si Niska!” ujar Mami.
Niska pun hanya tersenyum-senyum. Saat dirinya di sanjung-sanjung oleh para sahabatnya itu.
*****
ini adalah cerita bab 1,tunggu kelanjutannya ceritanya ya! :)


Komentar
Posting Komentar